Selasa, 06 Maret 2018

DILEMA KERJA. ANTARA LANJUT ATAU RESIGN...

 Aku belum pernah sakit hati sebanyak ini. Aku pun tak tau juga harus berbuat apa selain sabar yang ujung-ujungnya cuma nangis. Perasaan aku kerja udah bener2 diforsir banget deh sampe kadang nunda makan demi selesainya kerjaan. Tapi tetep aja diomelin. Ini pengalaman pertama bekerja di tempat ini, aku pun gak tau kenapa bisa sampai tempat ini. Banyak tempat yang bisa didatangi, kenapa harus disini? Sampai sekarang pun aku masih bertanya demikian kepada diriku sendiri. Diluar sana lebih banyak yang menggoda, memang benar. Diluar sana banyak yang lebi, memang benar. Satu yang saya harapkan, supaya saya bisa menikah di tahun ini (Secepatnya) kalo enggak ya tahun depan. Apakah dengan ini saya menganggap bahwa nikah itu adalah solusi? Bukan. Tapi, setidaknya setelah saya menikah nanti saya bsa fokus di rumah untuk bersama keluarga kecil saya, sebisa mungkin akan belajar untuk menjadi ibu yang baik. 

Sooo, balik lagi ke topik utama. Ya, sebenarnya saya sudah capek untuk kerja disini. Kalo ada yang berpikir kerja mana yang gak capek? Bukan capek fisik, tapi hati dan pikiran. Mungkin kalo capek fisik itu bisa sembuh dengan istirahat atau tiduran. Kalo capek hati beda. Apalagi sakit hati. Saya muslim, tapi apa saya pantas diktakan sebagai yang beliau katakan? (baca: monyet, kebo, babi, dll). Saya sangat sakit hati tapi apakah rasa sakit itu bisa hilang? Tidak. Meskipun berpuluh tahun, saya rasa lukanya masih sama untuk beberapa tahun ke depan. Saya manusia, terkadang saya merasa senang jika melakukan kesalahan. Kenapa? Karena itu menjadi bukti bahwa saya manusia. Manusia itu tempatnya salah dan benar. Bisa salah dan bisa benar. 

Pernah suatu hari saya berikir untuk mengajukan surat pengunduran diri, tapi disisi lain saya menyadari betapa sulitnya mencari kerja di negeri sendiri. Ada banyak pertimbangan untuk itu semua. Mungkin jika tiba saatnya, aku akan keluar setelah mendapatkan pengganti kerjaan ini. Untuk saat ini saya coba bertahan, menyemangati diri dengan "Sabar Liah, yang kerja di luar juga begitu", "Sabar Liah, kamu ga selamanya kerja disana kok". Ada banyak kata yang menjadi pertimbangan untuk saat ini. Yang aku lakukan seama ini, aku hanya sabar, dan berharap ini segera berakhir dengan sangat baik (baca:bisa mendapatkan pekerjaan yang lain yang lebih baik, dimana bos bisa menghargai karyawannya, karena karyawan tak perlu dipuji, mereke cuma perlu dihargai


Tidak ada komentar:

Posting Komentar