Rabu, 15 Februari 2017

Misteri Hidup akankah menghilang dan bahagia di akhir cerita?



Liah Hastuti Tiang Jawi

(Tentang: Cuma cewek biasa, berkulit hitam, rambut hitam, ada bekas knalpot di kaki kanan, saat ini menggunakan jaket parka warna army, dan cardigan warna cyan *apalah*
*btw ini kok kayak korban tabrak lari yang gak ada identitasnya ya?)
Lanjut ngapain ya kali ini? Ohiya, saya lagi galau *pembaca pada kabur*. Bukan galau gimana, enggak lah. Galau biasa. Nyatanya, kemaren tepat tanggal 14 Pebruari 2017 saya dengar bahwa cowok yang saya suka sudah tak lagi kerja di Jakarta. Ya. Dia minta pindah kerja ke Medan. Di Bandara Kualanamu. Hancur sudah. Saya rasa kemaren itu adalah hari dimana hati saya hancur sehancur-hancurnya. Disisi lain saya masih sangat merindukannya dan ingin bertemu untuk terakhir kalinya, sambil kasih bunga atau cokelat atau gudeg sama tumisan kangkung *enggak lah ya*. Tapi demi Alloh SWT, ini kali pertama saya bisa mencintai orang dengan begitu tulus dan begitu bahagia meskipun saya tak pernah dianggap. Benar. Sudah sejak 2013 saya menyukainya, kebayang kan sekarang 2017. Yang saya heran, saya juga gak pernah ngapa-ngapain sama cowok ini tapi kenapa saya bisa begini. Saya gak tau sama sekali. Kalo bisa, udah dari dulu saya pengen hidup normal *lah emang sekarang gak nornal* bukan gitu, maksudnya ya biasa aja gitu lho. Saya udah lama gak chatting sama dia. Saya berusaha menghapus semua kontak sosial media tentang dia tapi tetap saja gak bisa lupa. Alay. Ya emang alay kali ya atau apa saya juga gak paham. Sebut saja namanya Adi (nama samaran), atau Budi juga boleh terserah deh mau manggil apa yang jelas itu hanya nama samaran aja. Saya gak berani nyebut namanya takutnya dia baca, terus gak lama kemudian dia nelpon saya dan jadi benci saya. Enggak mau.
            Saya bertekad *ceilehhh gak cocok banget. Saya mutusin buat tetap suka sama dia sampai hati saya lelah selelah-lelahnya dan hancur sehancur-hancurnya. Buat yakinin diri kalo saya gak suka sama dia pun itu gak bisa malah makin sayang jadinya.  Sampai suatu hari saya berfikir, jika suatu saat nanti saya dan dia dipertemukan kembali dengan keadaan yang berbeda (dia udah duda misalnya) dan saya masih sendiri, saya tetap mau bersama dia. Untuk berada dalam fase ini setiap hari saya coba memperbaiki diri mulai dari bertutur dan bertindak. Sampai saya merasa menjadi bukan diri saya. Tapi tak apa, kalo dibiasakan kan mungkin akan lebih baik. Saya pengen banget denger suaranya, pengen tanya kabarnya, pengen tau warna kesukaannya, makanan favoritnya, film kesukaannya. But I know it just a big dream. Yeah, I am dreaming too big. Saya yakin pas saya dulu bilang sayang sama dia, dia langsung ill feel da pengen loncat dari lantai 5 Kampus BSI Cengkareng.
            Kenapa gak bisa dia juga bilang sayang. Padahal sayang itu bukan berarti harus jadian kan. Saya mungkin waktu itu gak ada akal sehat sama sekali, suhu badan tinggi dan mungkin harus dikasih segelas air putih yang udah dikasih doa dari ustadz. Disisi lain, saya juga gak mau menanggung perasaan ini sendirian. Semuanya terasa mimpi. Saya berusaha mencoba mengungkapkan apa yang dirasa kepada ibu saya. “Bu, aku merindukannya, aku semakin merindukannya *sambil bercucuran air wudhu air mata*, Adi (nama samaran) sedang umroh bersama ibunya, dan kudengar dia sudah tidak kerja lagi di Jakarta. Semakin jauh kan bu?”
Dengan nada haru, ibu saya bilang “Mau jauh ataupun dekat kalo bukan jodoh, mau bagaimana?”
Ketika itu saya menangis tapi saya yakin ibu saya gak tau karena saya menangis lewat telepon. Yang saya tangisi adalah keberadaannya yang semakin jauh. Kami berada di satu kota pun sudah 2 tahun tidak bertemu. Apalagi sekarang beda pulau. Dia di Sumatera, saya di Pulau Jawa. Itu yang saya tangisi. Bukan masalah jodoh atau enggak. Padahal saat itu (saat saya bilang saya menyayanginya) saya bukan mau dia jd pacar saya, saya waktu itu cuma pengen dia bilang “Terima kasih sudah sayang sama saya”. Udah. Cuma itu yang pengen aku dengar. Bukan “Kita jadian yuk”. Sama sekali bukan itu. Saya berharap jika masih diberi kesempatan, saya pengen peluk dia seerat-eratnya. And say “I love you, for a long time”.
            Sekarang sudah tahun 2017. Bukan satu dua kali saya coba move on dari dia, sudah berkali-kali dan gagal. Sedetik pun tak bisa hilang dari ingatan. Namanya dan raut senyumnya *elahhhh*. Mulai dari menghapus facebooknya, blokir facebooknya, di unfriend dan segala macem. Sudah pernah, tapi malah balik lagi. Dulu sekitar tahun 2015 an, saya waktu itu dengar dia sudah punya pacar, pacarnya cantik dan sangat mirip dengan dia. Jangan tanya perasaan saya saat itu yang jelas saya hancur sehancur-hancurnya. Hancur. Beberapa waktu kemudian saya hapus akunnya dari facebook saya. Saya pikir, saya gak bisa begini terus saya harus liat kedepan, harus melanjutkan hidup seperti biasa. Kalo menghapus akunnya bisa menghilangkan rasa sakit hati bahkan kecewa. Saya pikir gampang. Ternyata gak bisa. Beberapa bulan kemudian saya mencoba membuka blokir akun fb tentang dia. Ya. Tak lama kemudian, ada permintaan pertemanan dari Adi ini (nama samaran). Oke saya belum mau menerima permintaan pertemanan, saat itu saya hapus dan saya berpikir, jangan dia yang meminta pertemanan, oke saya saja. Sayalah yang meminta pertemanan dengannya. Oke. Ohiya satu lagi, selama gak berteman dengan dia, saya gak merasa kehilangan dan gak penasaran juga apa yang dia lakukan, tapi otak saya gak bisa lupain dia. Astaghfirullohaladzim.
            Setelah dikonfirmasi, saya coba stalking facebooknya. Gak ada yang aneh. Semuanya biasa saja. Hingga akhirnya saya sadar ada yang berbeda di akunnya. Ya, photo sama pacarnya udah pada gak ada. Alias putus. Saya bukannya seneng saya malah kepo. Ya penyebab putus pasti dari salahsatu pihak lah. Saya mikir, ini dianya apa ceweknya yang berulah. Oke, gak mau tau saya. Saya Cuma jalanin hari dengan sewajarnya, berharap menemukan pengganti dia. Meskipun sampai detik ini saya sama sekali belum bisa melupakan. Cinta atau apa ini? Kok kayak kutukan... setiap detik saya memohon pada semesta supaya bisa melupakan dia, hanya namanya... kumohon hilangkan namanya...
*tiba-tiba petir menyambar*

Minggu, 22 Januari 2017

Lirik Lagu Surga yang Tak Dirindukan 2 (Laudya Chintya Bella feat Wafda)

Lirik Lagu Laudya C. Bella & Wafda - Surga Yang Kurindukan (OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2)
Lirik Lagu Laudya C. Bella & Wafda - Surga Yang Kurindukan (OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2)

Lirik Lagu Laudya C. Bella & Wafda - Surga Yang Kurindukan (OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2)
  • Judul: Surga Yang Kurindukan (OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2)
  • Artist: Laudya C. Bella & Wafda
  • Genre: Pop
  • Album: OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2
Lirik lagu "Surga Yang Kurindukan (OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2)" dari Laudya C. Bella & Wafda ini merupakan Original Soundtrack dari film terbaru yang berjudul 'Surga Yang Tak Dirindukan 2' di garap langsung oleh produser senior yaitu Hanung Bramantyio, dan di publikasikan pada tanggal 8 November 2016 oleh NESIALIRIK.

Lirik Lagu Surga Yang Kurindukan (OST. Surga Yang Tak Dirindukan 2)

awan hitam bergulung-gulung
mengabarkan berita pahit
aku harus gimana pada cintaku

bisakah aku jadi langit
biar ku lindungi mendungmu
tak ku biarkan duka berkawan denganmu

biarkan hatiku bertudung
menutupi kenyataanku
menangis sekaligus tersenyum
pada takdirku

tak bisa kau paksa cintaku
berpindah kepada yang lain
sampai nafasku habis
ku mau denganmu

bisakah aku jadi langit
biar ku lindungi mendungmu
tak ku biarkan duka berkawan denganmu

biarkan hatiku bertudung
menutupi kenyataanku
menangis sekaligus tersenyum
pada takdirku

tak bisa kau paksa cintaku
berpindah kepada yang lain
sampai nafasku habis
ku mau denganmu

inilah surga yang kurindukan
memastikan kau baik-baik saja
walaupun kita tak bersama lagi
kenanglah aku.. cinta

Kamis, 19 Januari 2017

Apa yang Salah dari Orang yang Terlalu Dalam Mencintai Orang Lain?



 (Foto ini diambil sesaat setelah nyasar beberapa jam lamanya menuju ke Rumah Rani di Pahauran. Kanan ke Kiri (Widi Astuti, Rani Kamilatul Hasanah, Erna Susilawati, dan saya (Liah Hastuti))


Cinta...
Bagiku adalah sesuatu yang sangat indah. Karunia Alloh swt untuk setiap umat di dunia ini. Saya memang bukan seseorang yang berpengalaman untuk membicarakan tentang cinta. Saya pernah mendapati situasi dimana saya teramat sangat menyukai sesuatu. Ya. Untuk pertama kalinya saya jatuh hati kepada orang yang selama ini tidak pernah dekat dengan saya sekalipun. Bagaimana dia, bagaimana kebiasaan dia, apa yang dia sukai dan apa yang dia benci sama sekali saya tidak mengetahuinya.
Suatu waktu saya berharap supaya orang ini bisa mencintai saya. Tapi semua tidak berjalan seperti layaknya FTV. Semuanya teramat tidak mungkin. Apa yang saya sukai dari dia pun sama sekali saya tidak tau. Saya hanya melihat kedewasaannya. Saya pernah menangis dan bahkan sering. Mengapa dia tidak menyukaiku. Entah apa yang saya pikirkan. Sepertinya otak saya saat itu mulai tidak berfungsi. Menyukai sesuatu dengan berlebihan. Padahal ini tidak diperbolehkan oleh islam.
Bertahun-tahun saya mencoba menenangkan diri. Apa yang dia berikan kepada saya pun itu tidak ada, tapi mengapa saya sedemikian menyukainya. Seolah tiada yang lain di dunia ini. Hari ke hari hingga membentuk tahun, ya sudah 5 tahun saya menyukainya. Entah kapan bayangannya akan meninggalkan setiap sudut ruang di otak dan hati ini. Saya berharap ada keajaiban yang bisa menghapus namanya dari hati dan pikiran saya.
Hingga detik ini pun yang saya imajinasikan hanya dia. Saya gak tau, mungkin memang pantas ketika ada orang yang bilang saya ini gak punya harga diri. Ya. Bahkan saya tidak tau bagaimana seseorang bisa dikatakan punya harga diri atau tidak. Tapi mungkin pantas, karena saya hanyalah gadis tak punya dari keluarga yang tak punya, hidup sederhana dan seadanya. Apa yang salah dari orang yang terlalu dalam mencintai orang lain? Saya juga ingin berhenti. Andai ada mesin waktu, saat itu tidak seharusnya saya memberikan semua perasaan padanya.
Alloh swt itu maha membolak-balikkan hati. Ya. Saya berharap, suatu saat orang yang saya maksud bisa menyukai saya apa adanya seperti saya menyukainya. Hingga saat ini saya masih berpikir, jika kami suatu saat nanti dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda, jika kami masih sendiri, saya harap kita bersama. Jika suatu saat dia sudah punya anak tapi duda, dan saya masih sendiri, saya masih mau bersamanya. Betul. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi, semua itu sepertinya tidak mungkin.
Selama ini saya tidak ada masalah sama siapapun, saya punya banyak teman, bahkan ada yang homo sekalipun saya biasa saja. Saya dapat satu pelajaran dari temen saya yang homo ini, ya dalam homo itu gak hanya cowok dan cowok. Tapi di dalamnya ada salahsatu yang berperan sebagai cewek meskipun dia cowok. Ya bisa dibilang agak ngondek. Jadi, disana agak sulit untuk membedakan mana homo mana bencong. Oke abaikan tentang homo-homo ini.
Saya pernah ada masalah beberapa waktu lalu yaitu dengan mantan anak didik saya namanya Yuwanti. Saya gak tau awalnya gimana. Yang jelas, Yuwanti ini kita dulu temenan bahkan pernah sekelas. Tapi dulu, sifatnya ya biasa saja kayak pada umumnya orang-orang berteman. Saya pernah ngajar kelas dia saat itu semester 6 mata kuliah Paket Program Akuntansi.Tepatnya bulan Agustus 2016 dia pernah mengirim pesan ke saya dengan sebutan “ANJING, BABI, CODOT, MONYET BETINA, IBLIS, SETAN, KANG CIMOL, KANG BATAGOR, KANG MENYAN...” DUHH pokoknya parah banget, itu baru pembuka. Isi pesannya duhh kalo dibaca bisa langsung bikin mata minus, kejang-kejang dan bulu mata rontok. Ya. Kita temenan tapi sekalipun saya gak pernah curhat bahkan ngobrolin hal-hal intens (apalagi hal-hal mistis) duh enggak banget, jangankan curhat, duduk bareng sender-senderan aja gak pernah. Sikapnya yang aneh sejak Agustus 2016 lalu itu mungkin disebabkan karena saya kirim pesan ke temen deketnya yakni Sesanti. Ya, sama halnya kayak Yuwanti, saya juga berteman ala kadarnya dengan Sesanti ini. Ceritanya begini (pura2 ada yang baca), saya liat facebook saya di bagian facebook kan biasanya ada tulisan “orang yang mungkin anda kenal”, nahh muncullah nama Sesanti. Oke dia temen saya. Saya add dong, setelah sekian lama kok gak accept pertemanan saya. Saya penasaran saja, dia pakai poto profil bayi. Ya ternyata dia sudah menikah. Saya sengaja inbox dia begini “Sesanti, accept dong plisss”. Niatnya mau tanya, kapan nikah dan kapan punya anak, ya basa-basi lah ya. Itu sebelum ada kejadian dapet inbox dari si Yuwanti. Selang beberapa waktu, kemungkinan besar si Sesanti ini ngadu ke temen karibnya alias Yuwanti, mungkin bilang apa yang aneh-aneh kali ya saya gak tau juga. Buktinya si Yuwanti langsung muncul di inbox facebook dengan kata-kata yang super duper ‘greget’ banget.
Kata-katanya gini “Ehh codot (entah codot atau babi atau anjing, gue lupa nama panggilan gue waktu itu)!! Ngapain lu nge-add fb temen gue, lu mau nyari tau tentang gue ya? Lu mau usik kehidupan gue yang udah bisa tenang?” kata Yuwanti.
Busettttt, dia gak tau maksud dan tujuan saya mau apa. Oke dengan ibox dia yang panjang lebar dikali tinggi pangkat dua, gue males. Fix. Gue gak ladenin.
Selang beberapa hari, saya dapat telepon di whatsapp sama Pak Yogi. Pak yogi itu siapa? Dia adalah mantan partner saya dulu, dulu dia dosen dan asisten, kami ngajar kelasnya Yuwanti. Betul pemirsa. kami mantan tenaga didiknya Yuwanti. Pak yogi awalnya kirim pesan, saat itu saya sedang di Kota Tua tepatnya di Asemka sekitar jam 2 atau jam 3 sore. Sengaja saya gak balas. Saya berpikir, ahh gak penting. Saya juga lagi sibuk nyeker, kaki saya lecet sodara-sodara karena saya jalan ke Asemka pake sepatu gratisan dari customer, padahal merknya Y*ngki K*maladi. Ya kaki saya lecet, kalo bahasa jawanya “sikile mlentung”. Waktu itu saya mutusin buat nyeker, sumpah saya nyeker di Asemka sambil nenteng sepatu berharap ada penjual sendal eceran disana. Oke balik lagi ke cerita tentang pak Yogi. Begitu dapat WA yang isinya “Liah, angkat donggg penting?”
Saya (dengan wajah biasa saja),saya balas WA “ada apa pak? Menyangkut masalah saya kah?” maksa bales dengan huruf yang seadanya.
Pak Yogi balas “Saya juga gak bakal telepon kalo gak penting”.
Saya masih tetep ngeyel gak mau angkat telepon. Saya paling gak suka kalo telepon di tempat umum, suaranya campur aduk, ada suara knalpot bajaj, metromini, belom lagi suara kernet kopaja. Aduhhh .Gak deh.
Lalu saya putuskan buat balas begini “Nanti pak saya lagi di jalan”. Singkat, padat dan gak jelas. Faktanya, saat itu saya lagi gak di jalan, saya lagi menyusuri tempat2 asesoris, waktu itu saya lagi nyari souvenir buat acara pernikahan. Pernikahan siapa? Jangan ditanya. Ok. Dan setelah itu saya juga dapat pesan BBM dari salah satu dosen BSI juga namanya Ibu Yusnia Budiarti,M.Kom lebih dikenal dengan nama Bu Nia.Bu Nia ini juga menanyakan kepada saya, tentang Yuwanti. Saya Jawab “Saya kenal, bu” dengan kondisi dimana saya belum tau ada masalah apa dan megapa semua orang menanyakan Yuwanti kepada saya. Dan saya masih lanjut keliling asemka mencari-cari jomblo kaya (maaf, cari suveniran maksudnya).
          Sampe di rumah, kembali saya WA pak yogi, saya telepon. Dan.....jeng jeng jeng...ternyata ngomongin Yuwanti. Beuhhhhhh!!!! Jadi suruh buru2 angkat telepon Cuma buat ngomongin Yuwanti? Hadeh. Langsung down. Oke telinga saya saya paksa untuk mendengarkan. Dan perlahan cerita, intinya kenal sama Yuwanti gak. Ya saya jawab, saya kenal. Terus Pak Yogi cerita, bilang kalau Yuwanti sudah mencemarkan nama baik beberapa dosen dari Kampus saya. Diantaranya Ibu Ratna Setyaningsih, Ibu Herlina Ferliyanti, Pak Syukron Sazly, duhh pokoknya banyak. Saya hanya denger itu saja, bahkan pak Yogi juga sempet dijeleki2in juga.
          Jadi intinya, Yuwanti ini bikin cerita di facebook, tentang masalah percintaan diantara dosen2 yang saya sebutkan tadi. Dan isinya, aduhhh.... saya yakin itu gak akan dilakukan oleh orang yang masih bisa menggunakan pemikirannya dengan baik. Ada tentang hypersex segala, terus bilang ada yang cemburu sama Yuwanti, dan bagi siapa yang kuliah di BSI Cengkareng dan tau nama-nama dosen yang saya sebutkan di atas, JANGAN PERCAYA dengan berita buruk yang sudah dilakukan oleh salahsatu pihak. Semua adalah hoax. Hanya rekayasa. Saya yakin Yuwanti ini berbakat jadi penulis, buat bikin pilem-pilem keren di Indonesia. Saya bukan membela atau bagaimana, ya logikanya sekarang masa iya ada dosen yang sibuk ngurusin urusan pribadi mahasiswanya. Gak logis banget.
Beberapa hari terlewati, dan.... sekarang giliran saya yang dibuatkan cerita oleh Yuwanti, saya dan Pak Yogi tentunya. Ya, dia upload foto tentang saya dan Pak Yogi di facebook dan bikin cerita kalo kita itu istilahnya kasih tak sampai. Saya bersyukur, dia (Yuwanti)gak kenal sama orang yang saya sukai, kalo kenal, duhhh matilah saya.
Saya berusaha menanggapi biasa saja, tapi sebagai manusia yang normal, makan nasi dan minum air, lama-lama saya gerah (tanduk pun muncul dikepala beserta taring dan kuku tajam (ini saya berubah jadi apa coba -___-), saya balas ke Yuwanti begini “Kamu itu ngomong opppooooooo?”. Aku bales begitu doang, dan dia bales sampe ratusan halaman, kalo di print bisa jadi berapa eksemplar saya gak tau. Gilaaaa, saya mulai berfikir mungkinkan Yuwanti ini ada mengalami depresi yang begitu hebat, stres berkepanjangan yang akhirnya membuat dia seperti ini, saya gak tau pasti yang jelas ini bukan Yuwanti yang saya kenal sebelumnya. Akhirnya kita diemin sekian lama, kita biarkan, anggap saja kita selalu dapat notifikasi isi ulang pulsa gratis. Biarin aja. Lama-kelamaan dia makin menjadi, kayaknya gatel dengan semua unek-unek yang ada di kepala (ini unek2 apa ketombe). Saya berpikir, mungkinkah awalnya adalah karena Pak Yogi? Mungkinkah Yuwanti menyukai Pak Yogi tapi tak mampu mengungkapkannya? Mungkinkah dia depresi karena tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya langsung kepada pak yogi? Saya tak tau pasti. Mengapa saya bisa beranggapan demikian? Karena dari awal kasus ini mencuat (ceeileeh kayak berita selebritis), dia selalu menyebut nama Pak Yogi. Ada dua kemungkinan mengapa seseorang sering menyebut nama seseorang lainnya. Yang pertama, terlalu cinta. Yang kedua, terlalu benci. Dan mengapa saya mengatakan kalau Yuwanti ini mencintai Pak Yogi, karena sejak masih mengajar kelas Yuwanti, Pak Yogi sering cerita kalau Yuwanti ini sering menghubunginya dan bahkan meramalnya. Sering curhat dan sering chatting lah pokoknya. Bahkan gelang yang dipake pak Yogi pun sempat mau diminta sama Yuwanti. Saya gak tau esensinya dimana, gelap.
          Yang saya khawatirkan adalah, saya khawatir Yuwanti menjadi seperti ini karena meluapkan perasaan akibat ditolak oleh pak Yogi. Semoga bukan karena ini. Dan karena melihat kondisi Yuwanti seperti ini, saya berpikir mungkin kata-kata yang pak Yogi sampaikan ketika menolak dia ini agak2 kasar atau menyakitkan, saya gak tau pasti. Demi menjaga keselamatan salah satu pihak, saya terpaksa memblokir Yuwanti di facebook dan bbm. Saya gak mau melihat kata-katanya yang sadis. Saat itu, saya dan para dosen hampir bergegas ke Kantor Polisi untuk mengadukan kasus pencemaran nama baik dengan beragam bukti hasil screenshot di media sosial. Lama-lama kami berpikir, mungkinkah kantor polisi mau mepidanakan seseorang yang mengalami gangguan semacam depresi, oke! Semua itu kami rasa hanya akan membuang waktu, tenaga dan materi. Kami putuskan untuk mundur, ya mau Yuwanti gimana2 kami berharap dia bisa sembuh dari depresinya saat ini.
          Dari sana saya belajar, mungkin Yuwanti semacam terlalu menginginkan sesuatu, disini mungkin terlalu menginginkan Pak Yogi. Karena dari beberapa kasus, dia selalu menyebut nama Pak Yogi. Dari postingannya juga saya merasa kok Yuwanti agak cemburu mungkin dengan saya, karena saya bisa dekat dengan pak Yogi. Ya mungkin belum banyak yang tau kalo saya dan Pak Yogi ini memang cukup akrab, dan ya kompak2 saja. Kita deket tapi gak ada hubungan apa2, mungkin ada beberapa pihak yang mengartikan lain dengan kedekatan kami, tapi semua itu hanya gosip. Saya dan pak Yogi hanya sebatas partner saja dulu ketika kami masih dibawah langit yang sama *eaaaa.
Intinya sekarang, ya kalo misalkan ada beberapa pihak yang membaca dan kenal dengan salahsatu tokoh diatas (nama-nama yang saya tuangkan adalah yang sebenarnya dan tidak ada maksud menjelek2an satu sama lain), ini adalah cerita fakta yang terjadi di lingkungan BSI Cengkareng beberapa waktu yang lalu. Saya tidak bermaksud untuk menjelek2an siapapun. Jika ada yang salah dalam tulisan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semua ini hanyalah penggalan cerita yang ingin saya bagikan.


Dari sini saya khawatir, saya akan mengalami hal yang sama ketika teramat sangat menginginkan seseorang yang sangat saya cintai...

Rabu, 18 Januari 2017

Kerja Lagi...Kerja Lagi...Lagi Kerja



Kerja lagi, kerja lagi, Lagi Kerja
Saya kerja di daerah Harco Mangga Dua Komplek Agung Sedayu Blok A nomor 24, namanya Toko Roy, dan Toko tempat saya bekerja ini memiliki satu pabrik di daerah Kosambi namanya PT Benua Kemenangan Selaras.
          Saya kerja disini sudah 3 bulan, sebelumnya saya kerja di Metro (maaf, bukan metrotv). Ya tepatnya di samping Toko saya sekarang. Saya seneng banget bisa kerja di Toko Roy. Ya, saya tau setiap tempat kerja pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tapi saya gak mau bahas yang gak penting. Oke, saya mau bahas tentang kerjaan saya di Toko Roy ini. Saya kerja sebagai akunting (abal2), ya ilmu akuntansi saya gak lebih tinggi dari pohon cemara samping prapatan, ilmu akuntansi saya pas2an, meskipun dapat IQ 119 dan mendapat IPK 3.57, bukan berarti harus bangga kan.
          Iya, saya lulusan D3 dan mungkin banyak pembaca yang bertanya-tanya kok lulusan D3 kerja di toko. Memangnya dosa kerja di toko? Saya harus mencoba semua tempat kerja selama saya masih hidup, saya pernah bekerja di Bank Mayapada Sudirman, di PT Bestprofit, di Kampus sebagai asisten dosen juga pernah. Bahkan di pabrik juga saya tau bagaimana. Selama itu halal, kenapa tidak? Yang penting niat kita bekerja, gak neko2, gak ada niat mau apa2.
          Saya seneng bisa kerja di sini karena ternyata bos saya baik. Baik dalam arti bukan karena sering ngasih duit lho ya, ya maksudnya ngerti sama keadaan karyawan, saat karyawan mampu atau tidak, butuh bantuan atau tidak, dia paham dan siap membantu kapanpun. Keren lah pokoknya wibawa dan bijaksana. Namanya Pak Michael Indradjadja. Hari pertama interview ketemu beliau adalah hari pertama saya bertemu dengan beliau, meskipun sebelumnya tempat kerja saya berdampingan dengan ruko beliau, jujur saya belum pernah melihat beliau sekalipun. Yang saya dengar hanya berita tentang bapaknya yang bernama Pak Roy. Saya juga baru pertama kali bertemu beliau begitu kerja disini. Konon katanya, bapaknya Pak Michael ini galak banget. Oke, saya berusaha menenangkan diri, sekarang gini aja “gak mungkin ada orang marah2 kalo gak ada sebabnya”. Udah gitu aja. Kalo misalkan saya dimarahi, berarti ya ada yang harus diperbaiki dengan diri saya. Gitu aja, dan ga usah baper. Mau ada orang yang suka atau gak suka dengan kita ya upayakan yang terbaik. Jangan membenci. Gitu.
          Oke lanjut ke kerjaan. Kerjaan saya tiap hari adalah menyusun laporan buat financial statement akhir bulan. Pak Michael ini pengen banget supaya rekening gironya bisa surplus alias pemasukan lebih banyak daripada pengeluaran. Saya sudah mencoba menjelaskan, mengapa rekening bisa minus tiap bulan, karena pertama beliau menggunakan rekening itu untuk semua aliran dana, masuk keluar yang untuk operasional kadangn juga non operasional, non operasional misalkan bayar2 cicilan ini itu, beli ini itu buat rumah tangga, belum lagi pengeluaran di toko sama pabrik yang gak sedikit, sedangkan pemasukan kita biasanya lebih rendah dari pengeluaran kita. Oke, sampe sini kepala saya nyut-nyutan.
          Untungnya setelah saya jelaskan, pak Mike ini ngerti sama keadaannya. Ya alhamdulillah, saya sih sebisa mungkin pengen me-manaje keuangan beliau, tapi kan terkadang ada suatu pengeluaran yang gak bisa kita duga sebelumya.itulah yang bikin minus. Sebenernya kalo dari kegiatan operasional kita, kita itu gak rugi, malah untung. Hanya saya yang menyebabkan banyak pengeluaran adalah pengeluaran untuk keperluan pribadi dan rumah tangga. Gilaaa.... kepala saya kliyengan sampe ini.
          Alasan saya pindah dari sebelah adalah karena saya tidak cocok dengan bosnya. Gilaaaa, tu cewek cerewetnya minta ampun,banyak maunya, apa2 CCTV, karyawan ilang dikit liat CCTV, Pelitnya brooooo, gue kerja 10 bulan ga pernah ada naik gaji 100rb pun. Gilaaa, hartanya mau dibawa sampe kuburan kali. Yang saya dengar, satu ruko nya bakal dijual, gilaa gue seneng banget (gue langsung mikir ini pasti bangkrut). Makanya jangan dzalim sama orang, laknat Alloh swt itu pasti.
Kerja di tempat lama, gilaaaa setiap hari kayak masuk kandang singa, kayak kerja Rodi tau nggak. Kita diem dikit dikira tidur, kita napas dikit diomelin, gilaaa. Saya yakin tuh orang ada kelainan jiwa raga. Makanya selama 10 bulan saya disana, ada 5 orang karyawan yang keluar. Hahaha rasakan. Gimana orang mau loyal sama atasan,, atasannya aja begitu. Gak logika banget di zaman sekarang kerja sampe diliatin mulu di CCTV. Situ mantan pegawai CCTV?

Penting GAK Penting : Tentang profil penulis



Oke, mungkin banyak yang penasaran dengan detailnya saya. Untuk itu dalam postingan kali ini saya akan mengajak pembaca (pura-pura banyak yang baca), untuk membayangkan bagaimana saya. Yukk cekidottt....
Profil
Nama           : Liah Hastuti
TTL              : Ciamis, 22 Juli 1992
Alamat         : untuk sementara ini tinggal di Jakarta mungkin hingga 2019
Pendidikan    : Saya pernah sekolah beberapa sekolah di Ciamis, yakni     
                      SDN 2 Kawasen (lulus tahun 2004)
                      SMP Negeri 1 Banjarsari (lulus tahun 2008)
                      SMA Negeri 1 Banjarsari (lulus tahun 2011)
                      Akademi Bina Sarana Informatika Cengkareng (lulus tahun 2014)
Hobby             : Hobby saya tidur, motto dalam hidup saya adalah “saat paling      membahagiakan adalah ketika kita mau tidur”
Cita-cita           : ingin sekali menjadi seorang designer. Karena bapak dan ibu saya adalah seorang penjahat (maaf) penjahit.
                       Ibu saya dulu pernah bekerja di pabrik yang teramat besar se Asia Tenggara (PT Sarasa Nugraha Tbk) yang suatu saat lalu pabrik ini bangkrut karena salah manajemen (sok tau).
Makanan Favorit      : Apa aja yang penting enak dimulut, mau itu dari warteg, kaki lima, pinggir kali, bahkan solaria sekalipun. Tenang, lidah saya fleksibel selama makanan itu tidak manis dan bukan roti atau kue
                       (because I hate a bread and cookies. I hate them very much)
Minuman Favorit     : Saya fans air putih. Satu galon bisa habis hanya dalam 3 hari. Serius. Gara2 ini bapak saya panggil saya onta. Ya. Onta saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Onta! Aakkkkkk!
Status                    : selama ini saya tidak punya pacar. Bagi yang berminat silahkan coblos nomor 2 (maaf ini pilgub atau apa)
Tentang                 : Ya, pasti kalian sudah tau secara tersurat tentang saya, saya hanya wanita sederhana yang apa adanya. Saya gak bisa dandan, gak bisa terbang, dan gak bisa dapetin cinta kamu (*apasih). Alasan mengapa saya tidak suka kue dan roti adalah jadi ceritanya dulu sekitar tahun 2005, ibu saya nyobain mixer baru (saya gak tau mereknya apa), yang jelas waktu itu dia sedang bereksperimen membuat bolu. Bahannya saya ingat, telur, gula, tepung, pengembang, marimas, susu, energen, dan limbah pabrik (*maaf kalo yang terakhir engga termasuk). Ternyata pas di mix semua itu ada 1 telur yang busuk, gilaaaaa baunya menyengat melebihi got Jakarta. Sumpah bikin enek. Saya yakin baunya bisa membunuh satu gajah dewasa saat itu. Nah dari sanalah, saya beranggapan bahwa kue dan roti yang saya jumpai selama ini adalah terbuat dari telur busuk. Meskipun selama ini saya membantu membuatnya (kalo mau lebaran doang), dan saya tau bahan2nya emang berkualitas alias ga ada yang aneh. Tetap saja, masih terbayang kejadian beberapa tahun lalu. Bukan trauma, mungkin lebih ke ngeri aja. Ya itulah kenapa saya gak suka sama bolu. Mau dihias merah kuning hijau, mau dikasih boneka atau bayam sekalipun. Duhh, enggak deh. Aku menyerahhhh!!!!
Pengalaman paling berkesan : adalah ketika bersama keluarga dan bersama pacar (maaf, maksudnya bersama pacar temen saya). Ya kalo lagi ngumpul itu seneng banget, ngelebihin saat dapet THR lebaran.
Pengalaman paling buruk       : adalah ketika pernah ditolak cowok.huhuhu. it’s so sad story. Saat itu saya sering nangis, menyendiri, demam, pilek, kaki bengkak, bulu ketek pada rontok dan pegal-pegal (*ini gejala apa coba).
Musik                               : Saya sangat menyukai lagu-lagu Superjunior dan lagu-lagu Nike Ardilla. Saya punya banyak koleksinya di handphone, hardisk, bahkan di sisir rambut juga ada. Btw ini kutu apa lagu (maaf saya kutuan soalnya)
Film                                 : Film kesukaan saya film dari kartun Walt Disney. Alasannya ya karena kartun Disney tidak mengandung SARA. Keren banget, yang paling bagus selama ini yang saya suka Frozen dan Moana.
Warna                             : warna kesukaan saya semua suka, apalagi yang kalem2, dan tidak membuat pedih di mata. Saya hanya hapal warna2 utama seperti merah,biru,hijau,kuning,hitam,abu kalo warnanya lebih muda ya pake imbuhan muda dibelakangnya. Kalo suruh sebutin warna merah marroon,merah cabe, merah X, merah Y, saya menyerah dan bisa mendadak buta warna. Saya suka sesuatu yang simple dan sederhana tapi bagus.
Kelebihan                         : tidak mudah ngantuk, dan bisa nelen panadol gak pake aer. Mudah bergaul, simple, elegant, yang penting bisa glow in the dark kayak Syahrini. Dulu waktu SD,SMP, SMA saya terbilang pinter karena sering mendapat ranking 1, mendapat nilai bagus di beberapa mata pelajaran, tapi setelah lulus kuliah dan sekarang sudah bekerja, gue mendadak bego. Persamaan linier dua variabel juga gak tau, statistik, peluang (inget kan yang dadu dadu dilempar gitu), terus sama matrix. Semuanya lenyap ditelan masa. Untungnya pas beli cilok, kita gak ditanya tentang rumus reaksi kimia, sama akar kuadrat.
Kekurangan                      : Saya gak bisa menghapal jalan, dan menghapal gerakan. Semuanya itu terlalu sulit untukku...
Satu lagi, saya penggemar Raditya Dika. Selama ini hanya humorannya yang bisa membuat saya tertawa lepas.